Hilirisasi Sawit Tak Hanya di Dalam Negeri, Indonesia Jajaki Pengolahan di Mesir

Hilirisasi kelapa sawit selama ini identik dengan pengembangan industri pengolahan di dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah ekspor. Namun, Indonesia kini menjajaki pendekatan lain melalui investasi fasilitas pengolahan di negara tujuan ekspor. Rencana kerja sama Danantara dengan Sovereign Wealth Fund (SWF) Mesir menjadi salah satu contohnya. Menariknya, Mesir sebenarnya sudah mengimpor produk sawit olahan dari Indonesia dalam jumlah besar. Lantas, nilai tambah apa yang ingin dikembangkan melalui pembangunan fasilitas pengolahan di negara tersebut?
Pada Oktober 2026, Danantara mengungkapkan rencana kerja sama dengan SWF Mesir untuk menjajaki pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian minyak sawit (refinery). Fasilitas tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik Mesir sekaligus memperluas jangkauan pasar ke kawasan Timur Tengah dan Afrika. Pemerintah Mesir juga dilaporkan telah menyediakan kawasan untuk pengembangan fasilitas tersebut, meskipun rincian investasi dan kapasitas produksinya belum diumumkan.
Secara perdagangan, Mesir bukan pasar baru bagi sawit Indonesia. Data International Trade Centre (ITC) menunjukkan bahwa ekspor minyak sawit dan fraksinya (HS 1511) dari Indonesia ke Mesir mencapai sekitar 1,12 juta ton pada 2025, meningkat dari 792 ribu ton pada 2024. Sementara itu, data World Bank WITS mencatat bahwa pada 2024, ekspor produk minyak sawit selain mentah (HS 151190) mencapai 792 ribu ton dengan nilai sekitar USD732 juta. Artinya, perdagangan sawit Indonesia dengan Mesir telah mencakup produk hasil pengolahan, bukan hanya CPO mentah.
Kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting dalam rencana pembangunan refinery di Mesir. Jika fasilitas baru digunakan untuk memurnikan CPO asal Indonesia, sebagian proses pengolahan dan nilai tambahnya akan berlangsung di luar negeri. Sebaliknya, apabila fasilitas tersebut diarahkan untuk pengolahan lanjutan produk sawit Indonesia, investasi berpotensi memperluas kegiatan industri tanpa harus menggantikan proses pemurnian yang telah berjalan di dalam negeri. Namun, jenis bahan baku dan produk akhir yang direncanakan masih perlu diperjelas.
Dari sisi pasar, posisi geografis Mesir yang menghubungkan kawasan Mediterania, Timur Tengah, dan Afrika menawarkan peluang distribusi regional. Data WITS menunjukkan bahwa pada 2024, Mesir mengekspor sekitar 8,4 ribu ton produk minyak sawit selain mentah (HS 151190) ke sejumlah negara, termasuk Suriah, Yordania, dan Libya. Meski menunjukkan adanya perdagangan regional, volumenya masih relatif kecil dibandingkan impor dari Indonesia. Karena itu, potensi Mesir sebagai pusat distribusi sawit tetap perlu mempertimbangkan permintaan pasar, biaya logistik, tarif perdagangan, dan persaingan dengan pemasok lainnya.
Dengan demikian, investasi pengolahan sawit di luar negeri tidak harus bertentangan dengan hilirisasi domestik. Namun, manfaatnya bergantung pada kegiatan industri yang dikembangkan dan pasar tambahan yang dapat dijangkau. Mengingat proyek ini masih dalam tahap penjajakan, kejelasan mengenai jenis pengolahan, sumber bahan baku, dan sasaran pasar menjadi penting untuk menilai apakah kerja sama tersebut dapat memperluas peluang perdagangan sekaligus melengkapi industri pengolahan sawit Indonesia.