IPOSS - Indonesia Palm Oil Strategic Studies
  • Beranda
  • Kegiatan
  • Opini Peneliti
  • Berita
  • Publikasi
    Outlook Industri SawitLaporan kuartalan dan tahunanPolicy Briefs and PapersRingkasan kebijakan dan kajianIPOSS InsightsEdisi analisis berkalaArtikel JurnalTerbit di jurnal nasional dan internasional
  • Media
    GaleriDokumentasi foto kegiatanLiputan MediaIPOSS di berbagai media
  • Tentang Kami
    ManifestoVisi dan MisiKerangka Kelembagaan
    Struktur Organisasi
    Dewan PengawasPengurus dan Tim
Data
Data Intelligence

Tetap paham, tanpa kelelahan informasi.

Ikuti di LinkedIn
IPOSS - Indonesia Palm Oil Strategic Studies

Indonesia Palm Oil Strategic Studies. Riset, advokasi, dan data industri kelapa sawit Indonesia.

Sahid Sudirman Center Lantai 16 Unit A, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 86
Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10220
info@iposs.co.id
Riset
Opini PenelitiIPOSS InsightsArtikel JurnalOutlook Industri Sawit
Lembaga
ManifestoStruktur OrganisasiVisi dan MisiKegiatan
Jam Operasional

Senin sampai Jumat, 09:00 sampai 17:00 WIB, Jakarta

© 2026 IPOSS · Indonesia Palm Oil Strategic Studies
← Berita
6 Oktober 2026

Sela Kebun Sawit Bisa Jadi Lahan Produktif, Asal Tahu Caranya

Foto Website IPOSS (36)

Inilah yang terjadi di Aceh Singkil. Sebagian pekebun tidak membiarkan ruang di antara barisan sawit begitu saja. Sela kebun dimanfaatkan untuk menanam sayuran sehingga satu lahan dapat menghasilkan lebih dari satu komoditas. Dilansir dari Tribun Aceh, praktik tumpang sari sayuran di kebun sawit ini dilakukan oleh warga Aceh Singkil.

Cara tersebut bukan sekadar memanfaatkan ruang yang tersedia. Tumpang sari dapat menjadi pilihan untuk menambah sumber pendapatan, terutama ketika sawit masih berada pada fase tanaman belum menghasilkan (TBM). Penelitian Nasution, Farrasati, dan Sutarta (2022) di Rokan Hulu, Riau, misalnya, menunjukkan bahwa terung, cabai, pare, gambas, dan kacang panjang dapat dibudidayakan di antara sawit muda. Dalam penelitian tersebut, sistem tumpang sari tidak menunjukkan penurunan kualitas tanah maupun pertumbuhan vegetatif sawit ketika kebutuhan hara masing-masing tanaman tetap dipenuhi.

Namun, memanfaatkan sela kebun tidak berarti semua tanaman bisa langsung ditanam begitu saja. Agar tanaman sela dapat tumbuh tanpa mengganggu sawit sebagai tanaman utama, kondisi kebun perlu dilihat terlebih dahulu, terutama umur sawit dan lebar tajuknya (bagian mahkota pohon yang tersusun dari kumpulan pelepah dan daun). Pada sawit muda, tajuk belum menutup sehingga cahaya matahari masih cukup banyak mencapai permukaan tanah dan ruang antarbaris lebih terbuka. Karena itu, fase TBM awal menjadi salah satu periode yang paling memungkinkan untuk melakukan tumpang sari.

Setelah kondisi sawit diketahui, tanaman sela yang akan ditanam juga perlu dipilih dengan tepat. Penting untuk memperhitungkan kebutuhan ruang bagi tanaman sela agar akar dan tajuknya dapat berkembang, termasuk kecukupan cahaya, air, dan unsur hara, sehingga tanaman sela dapat tumbuh dan produktif di antara tanaman sawit yang ada. Pedoman Permentan tentang peremajaan kelapa sawit juga mensyaratkan agar sistem perakaran dan tajuk tanaman sela tidak terlalu bertumpang tindih dengan tanaman utama. Tanaman sela sebaiknya tidak menjadi inang hama atau penyakit sawit serta tidak merusak tanaman maupun tanah.

Setelah umur dan lebar tajuk sawit diketahui, ruang yang tersedia untuk tanaman sela dapat ditentukan. Pada jarak tanam sawit 9 meter, misalnya, tanaman sela dapat memanfaatkan ruang sekitar 5–7 meter di antara barisan, tergantung umur sawit. Pada umur 0–2 tahun, jarak tanaman sela dapat sekitar 1 meter dari pokok sawit sehingga ruang tanamnya lebih lebar, sedangkan pada umur 3–4 tahun jarak relatif aman sekitar 2 meter dari pokok sawit. Karena tajuk dan perakaran sawit berkembang seiring umur, jarak tersebut perlu disesuaikan dengan jenis tanaman sela serta kondisi kebun. Panduan teknis Intercropping in Oil Palm Plantations: A Technical Guide juga menekankan pentingnya pengaturan jarak tanaman sela terhadap pokok sawit (World Agroforestry/ICRAF, Intercropping in Oil Palm Plantations: A Technical Guide).

Aspek berikutnya yang tidak kalah penting adalah pasar dan pendapatan bagi pekebun. Tanaman sela dengan umur panen relatif pendek dapat memberikan pendapatan sebelum sawit mulai menghasilkan. Dalam penelitian di Rokan Hulu, misalnya, kacang panjang, pare, dan gambas memiliki masa tanam sekitar empat bulan, sedangkan terung sekitar enam bulan. Karena itu, tanaman sela idealnya bukan hanya cocok tumbuh di antara sawit, tetapi juga memiliki pasar dan memberikan nilai ekonomi bagi pekebun.

Pasar menjadi penentu apakah tumpang sari benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi pekebun. Komoditas yang cepat dipanen belum tentu menguntungkan jika akses pembeli terbatas, harga tidak menarik, atau biaya produksi dan angkut terlalu tinggi. Karena itu, pemilihan tanaman sela perlu mempertimbangkan permintaan pasar dan nilai usaha, selain kecocokan tanaman, umur sawit, kondisi lahan, serta cara pengelolaannya. Hal ini membuat praktik di Aceh Singkil menjadi menarik karena satu hamparan kebun dapat dimanfaatkan untuk lebih dari satu sumber hasil. Namun, tumpang sari bukan jaminan pendapatan tambahan; manfaatnya baru dapat diperoleh ketika aspek teknis dan ekonominya sama-sama terpenuhi.

Data CPO Harian
KPB Nusantara29 September 2026Rp15.050per kgICDX2 Oktober 2026Rp15.040per kg
FOB Belawan1 Oktober 2026USD 1.190per ton
Bursa Malaysia2 Oktober 2026MYR 4.354per ton
FOB Port Klang1 Oktober 2026USD 1.077,50per ton
CIF Rotterdam1 Oktober 2026USD 1.509per ton
ICDX, tiga bulan terakhir
Data terkait
Luas Lahan Sawit per ProvinsiTahunan, Ditjenbun, sejak 1967
Login IPOSS Data Intelligence
Artikel terkait
Foto Website IPOSS (33)Sebelum Ditanami Sawit, Apa yang Harus Diperhatikan dari Lahan Gambut?29 September 2026Foto Website IPOSS (31)Minyak Sawit Merah: Hilirisasi Sawit Rakyat yang Bernilai Gizi28 September 2026Foto Website IPOSS (32)Mengelola Air Setelah Kemarau: Strategi Water Management untuk Menjaga Produktivitas Sawit24 September 2026