
Pakan Bungkil inti sawit (palm kernel meal/PKM) dan produk berbasis minyak sawit telah digunakan dalam formulasi pakan. Kini, pertanyaannya berkembang: seberapa jauh bahan berbasis sawit dapat diperluas penggunaannya untuk mengisi sebagian kebutuhan yang selama ini dipenuhi Pakan Kedelai (soybean meal/SBM) impor? Kementerian Pertanian tengah mengkaji peluang tersebut bersama BRIN dan perguruan tinggi (InfoSAWIT, 2026).
Di sinilah terlihat kesenjangan antara ketersediaan bahan baku lokal dan pemanfaatannya dalam industri pakan. Dalam formulasi pakan broiler (ayam pedaging) yang disampaikan Kementan, SBM mencapai sekitar 25% dari total formulasi, sedangkan pada layer (ayam petelur) sekitar 20%. Di sisi lain, bahan berbasis sawit yang sudah digunakan masih sekitar 5% untuk PKM dan 5% untuk CPO atau lemak sawit pada formulasi broiler.
Perbedaan tersebut membuat pertanyaan tentang substitusi menjadi tidak sesederhana mencari bahan lokal untuk menggantikan bahan impor. SBM dan PKM memiliki karakteristik nutrisi yang berbeda. SBM merupakan sumber protein penting dalam pakan unggas, sementara PKM memiliki kandungan serat yang relatif tinggi. Kajian dalam Analisis Kebijakan Pertanian (2024) mencatat kandungan protein PKM sekitar 14–17% dan serat kasar 12–18%. Karakteristik tersebut membuat penggunaan PKM dalam jumlah lebih tinggi perlu diimbangi dengan formulasi dan pengolahan yang tepat.
Karena itu, menambah porsi bahan sawit bukan sekadar persoalan menaikkan persentasenya dalam ransum. Yang harus dipastikan adalah apakah ayam tetap memperoleh keseimbangan protein, energi, asam amino, dan nutrisi lainnya tanpa mengorbankan performa ternak. Sejumlah penelitian telah menguji pengolahan PKM, termasuk melalui fermentasi dan penggunaan enzim, untuk meningkatkan nilai nutrisi dan kecernaannya. Kajian yang sama memperkirakan PKM yang telah ditingkatkan kualitasnya dapat digunakan hingga sekitar 12,5% pada pakan ayam petelur dan 10% pada pakan ayam ras pedaging fase grower–finisher.
Temuan tersebut menjadi relevan dengan kajian yang kini dilakukan Kementan. Penggunaan bahan berbasis sawit yang saat ini sekitar 5% sedang dikaji untuk ditingkatkan hingga lebih dari 10%. Namun, angka tersebut masih merupakan bagian dari penelitian dan belum dapat dianggap sebagai tingkat substitusi SBM yang sudah terbukti dapat diterapkan secara luas. Artinya, tantangannya bukan hanya membuktikan bahwa bahan sawit bisa digunakan, tetapi menentukan berapa banyak yang dapat digunakan secara aman, efektif, dan ekonomis.
Pengujian di tingkat daerah juga mulai memberikan gambaran mengenai arah pengembangan tersebut. Pada September 2026, Kementan menguji formulasi pakan ayam petelur berbahan bungkil inti sawit yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Pengujian dilakukan untuk memastikan mutu dan kelayakan formulasi sebelum digunakan lebih luas oleh peternak. Pemerintah daerah memperkirakan formulasi tersebut berpotensi menghasilkan efisiensi sekitar Rp1,8 miliar per tahun, meskipun angka tersebut masih berupa simulasi dan belum merupakan penghematan yang telah terealisasi (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2026).
Di titik ini, persoalannya kembali pada daya saing bahan lokal. Ketersediaan PKM di dalam negeri memang memberikan peluang, tetapi biaya pengolahan, kualitas bahan, kecernaan, logistik, serta konsistensi pasokan tetap menentukan apakah bahan tersebut benar-benar mampu bersaing dengan SBM.