
Di tengah upaya memperkuat ketahanan energi daerah, Kalimantan Barat mulai melihat industri kelapa sawit sebagai salah satu sumber energi berbasis potensi lokal. Salah satu peluang yang dikembangkan adalah pemanfaatan cangkang sawit, produk samping dari proses pengolahan tandan buah segar (TBS) di pabrik kelapa sawit (PKS), sebagai bahan baku pembangkit listrik.
Dengan aktivitas perkebunan dan industri sawit yang besar, Kalimantan Barat memiliki ketersediaan biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Pemanfaatan ini tidak hanya berkaitan dengan penyediaan energi, tetapi juga bagaimana produk samping industri sawit dapat memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi daerah penghasil.
Dorongan pemanfaatan cangkang sawit tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan, seperti diberitakan Antara. Ia menyampaikan bahwa cangkang sawit sebagai limbah padat industri crude palm oil (CPO) berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif bagi PLN. Menurutnya, pengembangan pemanfaatan cangkang sawit dapat menjaga perputaran ekonomi tetap berada di Kalimantan Barat sekaligus memberikan dampak terhadap sektor lain seperti transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Cangkang sawit merupakan salah satu biomassa padat yang dihasilkan setelah proses pemisahan inti sawit di PKS. Selama ini, sebagian besar cangkang telah dimanfaatkan kembali oleh industri sebagai bahan bakar boiler untuk memenuhi kebutuhan energi internal pabrik. Namun, dengan perkembangan teknologi biomassa, pemanfaatannya dapat diperluas sebagai bahan bakar pembangkit listrik yang mendukung kebutuhan energi di sekitar wilayah sentra sawit.
Potensi energi dari industri sawit sebenarnya tidak hanya berasal dari cangkang. Proses pengolahan TBS juga menghasilkan berbagai produk samping lain seperti serat, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), dan limbah cair sawit atau palm oil mill effluent (POME). Berbagai biomassa tersebut memiliki karakteristik berbeda dan dapat dimanfaatkan melalui teknologi yang sesuai, mulai dari pembakaran langsung untuk menghasilkan energi panas hingga pengolahan menjadi biogas.
Potensi tersebut juga telah banyak dikaji dalam literatur ilmiah. Loh (2017) menjelaskan bahwa biomassa sawit seperti cangkang, serat, TKKS, dan POME dapat dimanfaatkan melalui pendekatan biorefinery untuk menghasilkan energi maupun produk bernilai tambah lainnya. Sementara itu, Shuit et al. (2009) menunjukkan bahwa biomassa sawit memiliki peluang sebagai sumber energi terbarukan karena ketersediaannya yang besar dan dapat dikonversi menjadi berbagai bentuk energi.
Meski demikian, ketersediaan biomassa belum otomatis menjadikan limbah sawit sebagai sumber listrik yang mudah dikembangkan. Tantangan utamanya bukan hanya memastikan bahan baku tersedia, tetapi bagaimana membangun rantai pasok energi yang stabil dan layak secara ekonomi. Pengembangan pembangkit biomassa membutuhkan investasi, teknologi yang sesuai, kepastian pembelian listrik, serta sistem pengumpulan dan distribusi biomassa yang efisien.
Hal ini menjadi penting karena karakteristik biomassa sawit berbeda dengan bahan bakar pembangkit yang selama ini banyak digunakan seperti batubara dan gas. Ketersediaan cangkang dan produk samping lainnya mengikuti lokasi perkebunan serta aktivitas PKS. Artinya, pengembangan energi berbasis biomassa perlu dirancang dekat dengan sumber bahan baku agar biaya logistik tetap terkendali dan pasokan energi dapat terjaga.
Dalam praktiknya, pemanfaatan biomassa sawit sebagai listrik daerah juga perlu memperhatikan skema penyalurannya. Jika energi digunakan untuk kebutuhan internal PKS, pemanfaatannya relatif lebih sederhana. Namun, ketika listrik dari biomassa ingin masuk ke sistem kelistrikan daerah, diperlukan skema kerja sama dengan PLN sebagai pembeli atau offtaker, karena penjualan listrik ke jaringan umum tidak dapat dilakukan seperti transaksi komoditas biasa. Karena itu, kepastian pembelian listrik oleh PLN menjadi salah satu faktor penting, tetapi tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan sistem kelistrikan setempat, harga, keandalan pasokan biomassa, dan kelayakan teknis pembangkit.
Bagi daerah sentra sawit seperti Kalimantan Barat, pemanfaatan cangkang sawit sebagai sumber listrik bukan hanya tentang mencari sumber energi alternatif, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari industri yang telah berkembang. Jika dikembangkan dengan pendekatan yang tepat, biomassa sawit dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat ketahanan energi daerah sekaligus mendorong industri sawit yang lebih efisien dan berkelanjutan.