
Mengaktifkan Kembali Bursa Fisik CPO Indonesia: Langkah Strategis Menuju Referensi Harga Global
Ringkasan Utama
Bursa Fisik CPO Indonesia stagnan setelah bulan pertamanya. Policy brief ini mengurai lima akar masalah dan merekomendasikan langkah bagi ICDX dan pemerintah.
Indonesia adalah produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia, tetapi harga domestiknya masih mengacu pada Bursa Malaysia Derivatives (BMD) dan CIF Rotterdam, sehingga Indonesia tetap menjadi price taker. Bursa Fisik CPO Indonesia (BCPO) yang diluncurkan ICDX pada Oktober 2023 diharapkan mengubah hal itu. Namun, sesudah transaksi perdana sebanyak 4 lot atau setara 100 ton, aktivitasnya stagnan meski lebih dari 50 pelaku industri telah menjadi anggota.
Melalui wawancara dengan pelaku pasar dan pembandingan dengan BMD, kajian ini mengidentifikasi lima akar masalah: fasilitas penyimpanan yang tidak dikendalikan langsung oleh bursa, pasar fisik dan berjangka yang terpisah, ketiadaan broker resmi, dualisme harga acuan antara ICDX dan KPBN, serta biaya yang menghambat pelaku skala kecil.
Policy brief ini merekomendasikan ICDX mengelola fasilitas tangki penyimpanan, mengaktifkan jaringan broker, mengintegrasikan pasar fisik dan berjangka, serta memberikan insentif berbasis volume transaksi. Pemerintah didorong menetapkan satu harga acuan nasional dan memberikan insentif fiskal bagi pelaku baru. Jika dijalankan bertahap dan konsisten, langkah ini diharapkan membentuk harga domestik yang lebih transparan dan mengurangi ketergantungan pada harga referensi luar negeri.
Baca laporan
Selengkapnya dari Policy Briefs and Papers

Serial PSR: Strategi Menumbuhkan Kelembagaan Pekebun Sawit Swadaya

Kontribusi Industri Sawit dalam Upaya Dekarbonisasi Sektor Penerbangan: Sebuah Update Perkembangan
